Search This Blog

Translate

Analisa Hasil Perhitungan Cepat Pilwalkot Bandung 2013 : Unjuk Kesolidan PKS dan Gerindra

Analisa Hasil Perhitungan Cepat Pilwalkot Bandung 2013 : Unjuk Kesolidan PKS dan Gerindra

Ada temuan yang cukup mengejutkan dalam Survey Tahap IV. Ketika ditanyakan kepada responden partai apa yang akan mereka pilih jika pemilu legislatif dilakukan saat ini, 60% mengaku akan golput. Tentu ini sebuah tamparan keras bagi partai politik. Sebuah bentuk kekecewaan terhadap kondisi politik saat ini. Lalu apakah peran partai politik masih krusial dalam Pilwalkot Bandung? Jika mengacu pada elektabilitas kandidat, dapat terlihat perbedaan cukup signifikan antara kandidat parpol dengan calon independen. Dari empat calon independen tidak ada yang cukup signifikan untuk mengalahkan kandidat usungan parpol. 

Bahkn kami memprediksikan jumlah suara calon independen tidak akan melebihi dukungan KTP yang menjadi pra syarat pendaftaran masing-masing. Besarnya dukungan yang diraih oleh calon dari partai politik tidak serta-merta menandakan posisi parpol yang masih kuat. Paling tidak jika dilihat dari survey, ternyata masyarakat tidak mengeal partai yang mengusung kandidat walikota. Misalkan hanya 25,96% warga yang tahu bahwa MQ Iswara - Dedi Ruyadi didukung Golkar; hanya 36,91% yang tahu Ayi Vivananda - Nani Suryani didukung PDI P; 38,9% yang tahu Edi Siswadi - Erwan didukung PD dan 39,6% yang tahu Ridwan Kamil - Oded didukung PKS. 

Branding sosok kandidat itu sendiri lebih mengenai di publik dibanding branding parpol. Jika parpol tidak berperan dalam hal branding, apakah parpol memiliki peran dalam aspek mesin politik? Maksud mesin politik di sini apakah Parpol mampu mengarahkan simpatisan maupun kadernya untuk memilih kandidat yang didukung. Untuk mengetahui hal tersebut, INSTRAT melakukan tabulasi silang dengan pilihan responden di Pemilu 2009 dengan pilihan kandidat walikota Bandung. Ternyata tidak semua parpol memiliki mesin yang solid. 

Bagan di atas menunjukkan persentase suara pemilih partai yang masuk ke kandidat yang diusung partai. Box jingga menunjukkan partai pengusung RIDO, box biru partai pengusung ESWAn, box merah partai pengusung AYINANI, box kuning partai pengusung Golkar. 

Bisa dilihat bahwa partai pengusung ESWAN merupakan yang paling tidak solid, sedangkan PKS dan GERINDRA menjadi partai tersolid Koalisi partai pendukung Edi Siswadi - Erwan Setiawan tidak sanggup menggalang mesin politik secara solid. Mayoritas pemilih Demokrat, PPP, PKB, dan Hanura memilih kandidat lain dan bukan calon yang diusung. 

Suara Demokrat terpecah antara ESWAN dengan RIDO. Sedangkan mayoritas suara Hanura mengarah ke AYINANI dan mayoritas suara PPP dan PKB mengarah ke RIDO. Dukungan solid ditampakkan oleh PDIP, Golkar, PKS dan Gerindra. Namun dukungan pemilih PDI P dan Golkar masih terpecah juga ke kandidat lain. Hanya PKS dan GERINDRA yang mampu menggalang dukungan solid ke kandidat yang diusungnya. Mayoritas pemilih PKS dan GERINDRA menunjukkan dukungan ke RIDO diatas 50 %. 

Bukankah PKS sedang dirundung masalah korupsi di level pengurus pusat? Memang benar bahwa korupsi menjadi parameter pemilih. Namun nampaknya pemilih Bandung cukup rasional untuk memisahkan antara persoalan yang membelit partai dengan kredibilitas sosok kandidat. PKS juga bermain cantik dengan tidak menampilkan simbol partai dalam branding RIDO, namun tetap mengerahkan kader partainya untuk melakukan kampanye rumah ke rumah. PKS telah berhasil melakukan silent movement untuk menggalang dukungan bagi RIDO.


0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.